Kunjungan Paling Mengesankan Saat ke Jepang : HAKONE

Tidak ada yang memungkiri bahwa Jepang adalah negara yang indah, semuanya mengesankan dan tidak ada yang mengecewakan, baik pemandangannya, budayanya maupun orang-orangnya. Sekitar satu bulan yang lalu saya melakukan kunjungan ke Jepang dalam rangka memanfaatkan tiket murah, dan ini adalah salah satu tempat wisata paling mengesankan selama sekitar 10 hari di Jepang.

Pemandangan Gunung Fuji dari Kejauhan yang Diambil di Owakudani

Saya bisa bilang bahwa di antara kunjungan saya ke berbagai kota di Jepang, kunjungan ke Hakone adalah kunjungan saya yang paling berkesan, mengapa ? banyak hal yang menjadi alasan tetapi yang terutama karena di Hakone saya benar-benar menikmati waktu, tanpa terburu-buru dan dikejar-kejar waktu ataupun itinerary yang padat. Bukankah essensi sesungguhnya dari perjalanan adalah menikmati ? itu menurut saya ya, mungkin berbeda dengan konsep yang ada di pikiran anda. Ini sedikit cerita mengenai Hakone, walaupun tidak semua tempat wisata di Hakone saya kunjungi, tetapi paling tidak saya merasakan berbagai pengalaman naik moda transportasi yang berbeda mulai dari kereta lokal, shinkansen, bis, pirate ship dan yang paling mengesankan adalah kereta gantung.
     
Awal cerita dimulai dari niatan impulsif, dalam perjalanan ke Jepang saya benar-benar tidak menyusun rencana pasti harus mengunjungi apa saja, hanya memang dari awal sudah berniat akan berkunjung ke kota apa saja dan akan bertemu teman lama asal Indonesia yang bekerja di sana, jadi apa yang akan saya kunjungi nanti bergantung pada mood, situasi, kondisi serta budget tentunya. Pada hari ke-dua kedatangan saya ke Tokyo, setelah mengunjungi Asakusa dan area di sekitar Shibuya, saya merasa bahwa saya sudah merasa cukup di Tokyo dan ingin melihat dari dekat Gunung Fuji. Pilihannya adalah kunjungan sehari pulang pergi Tokyo-Danau Kawaguchi-Tokyo atau perjalanan 2 hari 1 malam ke Hakone yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Pilihan pertama ke Danau Kawaguchi akan membuat saya merasakan pengalaman melihat Gunung Fuji dari dekat dalam waktu sehari dan katanya lebih jelas ditangkap pemandangan Gunung Fuji jika dari Danau Kawaguchi daripada dari Danau Ashi yang berada di area Hakone, setelah itupun saya masih bisa kembali ke Tokyo, menikmati Tokyo lagi, bersantai dan menunggu teman saya datang untuk bepergian bersama. Pilihan ke-dua Hakone, saya akan punya waktu lebih untuk menikmati Hakone dan bisa mengeksplorasi lebih banyak di sana, tetapi kelemahannya saya harus menginap dan membawa beban dua tas ransel depan belakang akan sangat melelahkan. Pada dasarnya saya kurang menikmati menjadi flashpacker jika bepergian sendirian untuk jangka waktu yang lama karena akan sangat melelahkan jiwa dan raga, jadi setelah dipertimbangkan masak-masak, malam sebelum saya berangkat, saya putuskan untuk mengunjungi Hakone, memesan penginapan malam itu juga, mencari informasi mengenai Hakone Free Pass serta penitipan barang di stasiun Tokyo lalu segera tidur untuk menyimpan tenaga demi berpindah kota keesokan harinya.
       
Berikut ini langkah-langkah yang saya lakukan hingga mencapai penginapan di Gora yang ada di area Hakone.
1. Check out dari penginapan Oak Hostel Zen di daerah Asakusa, Tokyo sekitar pukul 08.00 pagi, segera menuju stasiun Uguisudani berjarak 5 menit dari penginapan (sempat terjadi kepanikan karena saya mengira JR Pass saya hilang terselip entah di mana, tetapi akhirnya ketemu), lalu dari stasiun Uguisudani naik JR Yamanato Line ke Osaki turun stasiun Tokyo dengan kondisi berdiri di kereta dan berdesakan dengan penduduk kota Tokyo yang berbondong-bondong berangkat kerja
2. Tiba di stasiun Tokyo, segera mencari tempat penitipan barang yang ternyata terletak di lantai underground di dekat Shinkasen South Exit stasiun Tokyo. Tempat penitipan barang ini berupa coin locker dengan tarif beragam, untuk tas carrier Deuter saya dengan volume 65 Lt, saya sewa loker dengan ukuran yang paling besar dimensinya seharga 600 yen per hari, maksimal 3 hari

Ini Dia Loker Penyimpanan Barang di Stasiun Tokyo yang Bisa Disewa
3. Mencari informasi mengenai keberangkatan Shinkansen ke Odawara apakah jalur selatan atau utara (karena saya baru pertama kali naik Shinkansen), dan ternyata sangat mudah, tinggal mencari kereta Shinkansen Kodama dengan tujuan akhir Shin-Osaka yang nanti akan melewati Yokohama dan berhenti di tiap stasiun termasuk stasiun Odawara. Naik Shinkansen dengan menggunakan JR Pass ternyata juga mudah, tinggal melipir ke penjaga loket atau petugas yang menjaga gerbang masuk atau keluar, jadi jangan melewati pintu otomatis ya.

Antri dengan Tertib Menunggu Saat Masuk ke Dalam Kereta Shinkansen Kodama
4. Segera antri menunggu kedatangan kereta Shinkansen Kodama yang amat sangat tepat waktu hingga ke menit-menitnya, di dalam kereta Shinkansen akan ada pemeriksaan tiket, jika ada JR Pass tinggal menunjukkan saja ke petugas. Dalam waktu 35 menit kereta akan tiba di stasiun Odawara, di stasiun ini kita sudah bisa membeli Hakone Free Pass di counter ticket di dalam stasiun seharga 4000 yen dan bisa digunakan selama 2 hari 1 malam menggunakan seluruh moda transportasi yang ada di area Hakone.

Suasana di Dalam Kereta Shinkansen Dalam Perjalanan dari Stasiun Tokyo Menuju Stasiun Odawara
Konter Pembelian Tiket Hakone Free Pass di Stasiun Odawara
5. Setelah membeli tiket Hakone Free Pass, segera ke jalur kereta Hakone Tozan Railway dengan tujuan stasiun Hakone Yumoto dan membutuhkan waktu tempuh selama 19 menit, kerta mulai melewati pedesaan, sungai yang mengalir jernih dan bukit-bukit gersang dengan pepohonan tanpa daun karena musim dingin, setiba di stasiun Hakone Yumoto, turun lalu ganti kereta dengan tujuan akhir stasiun Gora selama 42 menit. Sejatinya jarak tempuhnya tidak terlalu jauh namun ternyata kereta terakhir ini melewati pegunungan dan perbukitan sehingga akan menghambat kecepatan kereta. Di perjalanan saya mulai melihat lapisan salju tipis di atas perbukitan, tak sadar senyum di bibir langsung tersungging tipis karena ini pertama kalinya melihat lapisan salju :)))

Suasana di Dalam Kereta dalam Perjalanan ke Stasiun Hakone Yumoto
For The Very First Time Melihat salju! (Biarin Norak)
6. Here we go, saya sampai di Gora! saat itu hari sudah agak siang sekitar jam 12, saya langsung menuju penginapan dan menitipkan tas lalu bersiap untuk berkeliling Hakone.

Setelah menitipkan tas di hostel, lalu saya langsung beranjak untuk mulai berkeliling di area Hakone. By the way saya menginap di Onsen Guesthouse Hakone Tent yang saya reserve melalui situs www.booking.com karena memiliki nilai rate yang bagus dan tarif masih bisa dijangkau (Rp. 413.488,- per orang per hari tanpa sarapan), saya memesan kamar dengan tempat tidur berupa futon, dengan isi 6 orang di kamar khusus wanita, penginapan ini memiliki fasilitas onsen pribadi atau pemandian air panas alami dan desain sharing lobby nya sungguh nyaman, lagipula mas-mas penjaganya ganteng :)) Oke mari membahas rute jalan-jalan saya di Hakone.
Sharing Lobby  yang Terdapat di Onsen Guesthouse Hakone Tent amat sangat nyaman dan homy
Setelah keluar dari hostel, saya menuju warung ramen yang ada di dekat stasiun Gora untuk makan siang terlebih dahulu, ini pertama kalinya saya makan ramen di Jepang, hehe jadi enak banget dan kebetulan lagi laper sih. setelah kenyang saya segera menuju stasiun Gora lagi untuk naik Hakone Tozan Cable Car ke atas bukit yang tinggi, jalurnya sangat menanjak sekali, setelah naik Hakone Tozan Cable Car saya sampai stasiun Sounzan, harusnya bisa langsung dilanjut naik Hakone Ropeway melewati Hakone Gora Park, namun sayang saat itu jalur Ropeway di bagian ini sedang diperbaiki, sehingga wisatawan diangkut dengan menggunakan bus sampai Owakudani baru kemudian naik Hakone Ropeway lagi. di Owakudani, pemandangan Gunung Fuji tampak jelas di kejauhan walaupun sedikit tertutup kabut tapi mampu membuat saya sangat excited dan tidak pernah membayangkan berdiri sejauh ini di Jepang, melihat Gunung Fuji yang hanya saya dengar pada mata pelajaran geografi dulu sewaktu sekolah. Di Owakudani ini ada yang terkenal namanya black egg, intinya adalah telur yang direbus dengan menggunakan air belerang sehingga warnanya menjadi hitam, dijual dengan harga sekitar 500 yen untuk 5 butir, saya sih tidak membeli ya, karena antrian pembelian telur saat itu sangat panjang, males lah.

Makan Siang berupa Ramen, Pertama Kalinya di Jepang!
Suasana di Dalam Hakone Tozan Cable Car dengan Rute yang Menanjak Menuju Stasiun Sounzan
Statue Black Egg atau Kuro Tamago yang Terkenal dari Owakudani
Di Owakudani ini saya puaskan diri foto-foto lanskap pemandangan gunung Fuji dari jauh dan juga pegunungan belerang yang berasap dan masih aktif adanya penambangan belerang di sana, lalu saya segera menuju ke tempat naiknya hakone ropeway atau kereta gantung yang akan menuju Danau Ashi. Inilah pengalaman pertama saya naik kereta gantung, menegangkan walaupun saya tahu pasti aman sih, hehe..rasanya kayak naik bianglala tetapi berjalan ke depan terus dan meluncur, di mana di bawah dijumpai pepohonan yang meranggas dan hamparan salju yang putih, sebelah kiri terhampar pemandangan Danau Ashi, lalu di sebelah kanan terdapat lanskap Gunung Fuji yang perlahan-lahan mulai tertutup kabut. Indahnyaaaaa....

Bisa Foto Berlatar Gunung Fuji, Can't imagine before!

Tambang Belerang yang Masih Aktif Beroperasi
Di Atas Hakone Ropeway Memandang Danau Ashi di Kejauhan
Hakone Ropeway ini menuju stasiun Ubako, lalu menuju stasiun Togendai-Ko yang dekat dengan pelabuhan di tepian Danau Ashi, selanjutnya dari Danau Ashi, saya akan melanjutkan dengan naik Kapal Bajak Laut menyeberangi Danau Ashi hingga berhenti di pelabuhan Hakone Machi-Ko. Antrian penumpang yang akan naik kapal bajak laut sungguh amat panjang, karena sore itu tinggal tersedia beberapa pemberangkatan, tetapi karena muatannya di kapal sangat banyak, maka dalam sekali antri mungkin sekitar 100 orang akan terangkut ke dalam kapal. Perlu diingat bahwa tidak ada biaya sama sekali naik berbagai moda trasnportasi ini ya karena saya punya Hakone Free Pass :))

Naik Pirate Ship Menyeberangi Danau Ashi
WInter Style Ala Biksu yang Sedang Bepergian
Ketemu Anak Kecil Jahil ini Saat Di Atas Pirate Ship
Waktu saat itu menunjukkan sekitar pukul 16.00 waktu Jepang dan cahaya matahari mulai redup yang artinya hawa di musim dingin semakin parah, ditambah dengan angin yang bertiup di Danau Ashi mampu membuat tangan saya membeku jika tidak dilapisi sarung tangan. Di dalam kapal bajak laut saya hanya merasakan sedikit kehangatan cabin kapal, karena saya lebih memilih untuk berdiri di anjungan kapal untuk melihat pemandangan dan berharap sekiranya Gunung Fuji akan tampak lagi dari Danau Ashi, namun sayangnya harapan saya pupus. Saya hanya mendapatkan hawa dingin bercampur angin di atas kapal bajak laut, namun pemandangan sore itu di Danau Ashi sungguh menawan. Sesampai di pelabuhan Hakone-Machi-Ko, ada pilihan untuk mengunjungi beberapa  obyek wisata di dekat sana, namun demi bertahan dari udara dingin dan ingin segera sampai hostel, saya memilih untuk segera antri dan naik bus jurusan stasiun Kowakidani untuk selanjutnya naik kereta ke stasiun Gora. Sekitar jam 17.30 saya sampai di satsiun Gora dengan hawa yang sangat-sangat dingin, lalu saya memutuskan untuk membeli sake hangat dan mochi coklat di sebuah toko kecil dekat stasiun lalu bergegas untuk berjalan pulang kembali ke hostel.

Kue Moci Cokelat Hangat dan Sake Hangat di Dalam Kamar Hostel Sore Itu
Di hostel saya segera mengemasi barang saya yang hanya dititipkan di dekat lobby lalu menyelesaikan pembayaran dan konfirmasi untuk breakfast besok. Memang di sebagian besar penginapan di Jepang, pembayaran harus diselesaikan di awal, lunas dan tuntas. Pihak hostel menawarkan untuk adanya menu makan malam bersama berupa chicken curry, seharga 500 yen, setelah berfikir sejenak saya segera menyutujui untuk memesan dan bergabung dengan makan malam mereka hari itu. Di Hakone ini memang saya tidak berencana terlalu banyak, hanya ingin berkeliling sebentar lalu menikmati istirahat di hostel, mandi di onsen pribadi di dalam hostel dan tidur cepat karena rasanya perjalanan beberapa hari ini capek sekali.

Di lantai 1 yang tergabung dengan lobby terdapat toilet (dry toilet dengan berbagai tombol canggihnya), dapur dan ruang duduk yang menyediakan teh dan kopi gratis memiliki view ke arah lapangan olahraga suatu sekolah, ruang tempat menyimpan barang-barang tamu, lobby tempat menerima tamu dan ruang tamu bersama yang terdiri atas 3 area yang dilengkapi dengan rak buku, meja komputer, tatami dengan selimut dan penghangat serta sofa, segala interior di hostel ini membuat saya jatuh cinta dan merasa feels like home seketika.

Di lantai bawah tanah terdapat dua onsen atau sumber air panas alami yang disekat hanya dengan pintu kayu. suasana di bawah sini sangat redup, penuh dengan uap dan relax. Terdapat pula shower untuk mandi. Saat kita memakai onsen tersebut atau ada tamu lain yang memakai maka akan ada penghalang bahwa onsen sedang dipakai, jadi jangan sampai melanggar itu ya karena sama sekali tidak ada pintu berkunci di sini, dan tahu sendiri kan kalau berendam di dalam onsen di Jepang aturannya adalah kita tidak diperbolehkan memakai sehelai benang pun. Hakone yang merupakan daerah pegungan dan salah satu lereng gunung Fuji ini memang terkenal memiliki berbagai tempat pemandian air panas, sayaang saya tidak sempat eksplorasi lebih jauh karena keterbatasan waktu.

Di lantai 2 terdapat beberapa kamar baik private maupun sharing room, saya beruntung mendapatkan sharing room yang ada di dekat jendela sehingga dapat langsung melihat pemandangan ke arah jalan, di kamar itu berisi 6 orang termasuk saya, tetapi kebetulan pada saat saya datang belum ada teman sekamar lain yang datang. Menghabiskan waktu sebentar di dalam kamar dengan minum sake hangat serta camilan moci cokelat, mengisi daya beberapa gadget yaitu Hp dan Kamera, lalu segera menyiapkan diri untuk mandi di onsen. membawa baju secukupnya dan peralatan mandi, segera menuju lantai bawah tanah setelah sebelumnya mengganti tanda pembatas bahwa onsen sedang dipakai, menyimpan segala macam baju di bagian luar onsen, lalu menuju bagian dalam onsen tanpa memakai apapun, saat itu di onsen sebelah sedang ada yang berendam juga dan mereka adalah dua orang lelaki yang bercakap-cakap dengan bahasa inggris. Saya yang terbiasa dengan kamar mandi berpintu sebenarnya agak sedikit khawatir karena dua tempat itu ternyata hanya dibatasi pintu berkelambu saja yang jika mau usil atau tidak sopan, akan sangat mudah bagi orang lain untuk melongok ke ruang di sebelahnya, tapi ini Jepang bukan, saat mandi pun kita harus taat pada privacy, sopan santun dan tata tertib. Sebelum berendam di kolam air panas, terlebih dahulu kita harus membersihkan diri dengan mandi shower yang telah disediakan, boleh memakai sabun sebelum atau nanti sesudah berendam, yang penting kita harus masuk ke dalam air panas dalam keadaan bersih. Saya sangat menikmati sore saya kala itu, sekitar satu jam saya berendam air panas dan sendirian mendengarkan gemericik air panas alami, nikmat.

Kamar Hostel Saya di Hakone
Setelah selesai mandi air panas, saya segera ke lantai dua dan bersiap untuk makan malam. Saya pikir sharing dinner adalah suatu pesta bersama-sama makan dari menu yang dihidangkan, ternyata hanya jenis menunya yang sama. Jadi segera terhidang di meja saya saat itu di living room adalah sepiring chicken curry hangat khas Jepang dengan nasi panas yang mengepul-ngepul nikmat, rasanya seperti saya sanggup menghabiskannya saat itu juga karena saya sangat lapar. Nasi putih di Jepang terkenal dengan kenikmatannya, mungkin karena beras pilihan yang ditanam berkualitas atau teknik menanam yang dikerjakan dengan penuh ketelitian atau saya yang selalu kelaparan setiap akan makan nasi, namun setiap saya pergi makan dengan nasi, baik hanya di depot sederhana, membeli sepaket bento dari konbini (convenience store) ataupun di gerai cepat saji sederhana seperti yoshinoya yang harganya sangat murah itupun nasi putihnya sangatlah enak, pulen dan banyak. Hidangan lain yang menemani saya malam itu adalah chicken curry, sebenarnya saya agak ragu dengan hidangan chicken curry ini karena bukankah sebenarnya curry  adalah makanan khas India, tetapi mengapa menjadi khas Jepang dan rasanya sungguh-sungguh nikmat. Jadilah malam itu saya menghabiskan sepiring besar Rice chicken curry dan naik ke atas tangga untuk kembali ke kamar dengan perut penuh, badan sempoyongan dan mata berat karena kekenyangan.

Nasi dan Chicken Curry Hangat, Sajian Makan Malam Saya Kala Itu
Malam itu, saya tidur cepat sekitar pukul jam 21.00 setelah sebelumnya mengabarkan ke teman saya, Yoga yang besok akan berjanji bertemu di stasiun Tokyo tepat di tengah hari. Istirahat yang nyenyak malam itu dengan tidur di atas futon tradisional dan ruang tidur dengan penghangat bersuhu 25 derajat celsius. Keesokan paginya saya terbangun jam 8 pagi, waktu bangun saya di Jepang berubah seketika, biasanya saya terbangun otomatis tanpa alarm jam 6 pagi di tanah air, sekarang karena perbedaan waktu dua jam lebih cepat daripada di Indonesia, maka di Jepang saya terbiasa bangun jam 8 pagi, malas-malasan sebentar sekitar sejam lalu bersiap-siap untuk sarapan dengan croissant hangat serta semangkup sup jagung dan segelas susu putih hangat, duduk-duduk dan menikmati suasan living room di hostel, lalu pukul 10 pagi saya bersiap checkout dan beranjak menuju Gotemba Premium Outlets, tujuannya bukan untuk berbelanja namun hanya sightseeing dan menangkap foto Gunung Fuji yang menurut saya belum seberapa jelas tertangkap kamera kemarin.

Sarapan Pagi Itu Dengan Sup Krim Jagung dan Croissant Hangat
Checkout dengan menyerahkan kunci dan memberikan souvenir kecil ke mas penjaga resepsionis yang ganteng :)) lalu berjalan menuju stasiun Gora untuk naik bus Hakone Tozan yang memiliki tujuan akhir Gotemba Premium Outlet bukan stasiun kereta Gotemba. Perjalananan dari Gora membutuhkan waktu sekitar satu jam dan di Gotemba saya terburu-buru melakukan window shopping, sempat membeli sehelai baju dan lalu segera terburu lagi untuk naik bis yang menuju Stasiun Hakone-Yumoto, dari stasiun ini dilanjutkan naik kereta ke stasiun Odawara dan dari Odawara dilanjutkan naik Shinkansen ke stasiun Tokyo yang semuanya hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam padahal jarak yang ditempuh sekitar 133 km, namun karena sistem transportasi di Jepang yang amat baik dan tepat waktu maka saya tidak terlalu terlambat untuk menemui teman saya yang telah menunggu di pintu selatan stasiun Tokyo, bahagia sekali rasanya bertemu teman sepermainan dulu di kota kecil di Magetan lalu berencana akan melakukan perjalanan bersama selanjutnya ke daerah Ueda yang termasuk Perfecture Nagano. Tunggu saya di cerita selanjutnya ya..




Komentar

Postingan Populer