Sedikit Cerita Dari Bromo mengenai Edelweiss (Anaphalis javanica)

Pedagang Bunga Edelweiss di Gunung Bromo
Bapak jaket kulit : "Mbak beli bunganya mbak buat doa di atas gunung"
Saya : "Menggeleng lemah dan tersenyum sopan"
Bapak : "Buat doa mbak, nanti ditaruh di atas gunung.."
Saya : "tetap menggeleng dan dalam hati berujar oh begini cara jualan edelweiss yang baru..."

Suatu kali, belum lama ini saya memiliki kesempatan untuk berkunjung lagi entah keberapa kalinya ke Gunung Bromo. Saat sedang mengambil nafas dalam perjalanan turun dari atas puncak Gunung, saya melihat bapak ini sebentar dan beliau berkeras menawarkan seikat bunga Edelweiss yang telah dikeringkan, diwarnai dengan cantik dan dirangkai dengan indahnya, namun di hati saya malah bukan jatuh hati pada bapaknya (eh) pada rangkaian bunganya maksudnya tetapi saya patah hati..iya mungkin berlebihan, tetapi saya patah hati karena bunga Edelweiss yang saya cintai dan selalu saya rindukan harumnya saat pergi ke atas gunung sana dijadikan bahan jualan oleh beliau dan hanya dihargai Rp 20.000,- setangkai. Sedikit ironi di sini karena Tuhan menciptakan alam dan kita manusia untuk hidup berdampingan dalam harmoni, namun yang terjadi malah kita mengambil dari alam tanpa batasan (mengambil bunga Edelweiss dari habitat aslinya di gunung) dan membawanya ke atas gunung lalu berdoa kepada Tuhan dan mengucap suatu permintaan. Egois ya kita manusia itu ?

Kenapa saya harus patah hati, toh bunga edelweiss di atas gunung masih banyak, toh mereka menjualnya untuk cari makan, untuk menghidupi diri, toh tidak untuk dieksplorasi habis-habisan seperti penambangan emas di bagian timur Indonesia sana yang mengeruk perut bumi sampai tak bersisa..Toh..Toh..Toh yang lain. Begini ya teman-teman, bunga edelweiss ini memang cantik, dia memiliki image cinta abadi, yang dilambangkan sebagai suatu kenang-kenangan yang patut dibawa pulang oleh seorang pendaki bagi kekasihnya yang menunggu manis di rumah seperti dongeng yang saya dengar sekilas dari seorang ibu tengah baya yang meminta anaknya membeli saja bunga edelweiss berbentuk boneka beruang lucu yang ditawarkan padanya di Penanjakan suatu pagi. Tetapi, tahukah kamu bahwa ia ada di ambang kepunahan ? 

Bunga Edelweiss yang tumbuh di sekitar pegunungan Bromo Semeru ini dikenal dengan nama latin Anaphalis javanica dan menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) atau Organisasi Internasional dalam bidang Konservasi Alam termasuk dalam kategori kritis, artinya menghadapi resiko kepunahan yang sangat tinggi di alam dalam waktu dekat atau masuk dalam kriteria mengalami penurunan tajam > 80 % selama 10 tahun atau 3 generasi. Di Indonesia tepatnya di Jawa tumbuhan ini memang tersebar di beberapa lokasi seperti di Gunung Gede, Pangrango, Papandayan, Lawu dan khususnya di Pegunungan Bromo Tengger Semeru, bunga ini sudah dinyatakan punah, walaupun saya masih menjumpainya saat saya naik Gunung Semeru tahun lalu.

Kalau punah, apa yang terjadi ? Maka Tidak akan lagi kita mengenaj Anaphalis javanica dan juga akan menghilangkan fungsinya di alam "hanya" karena keinginan manusia yang mengambilnya sebagai pembuktian atas sesuatu. Edelweiss ini merupakan pelopor spesies tanaman di alam liar saat kondisi alam benar-benar ekstrim di mana tumbuhan lain belum tentu bisa hidup. Dia akan menjadi yang pertama hidup dan menyediakan nutrisi bagi organisme lain untuk hidup. Pohon dari bunga ini juga mampu melindungi dari tanah longsor karena mampu menahan air dalam akar-akarnya. Kalau kita di bagian hilir membeli bunganya atau membawa bunga dari habitat aslinya dengan alasan sepele, maka lambat laun bunga-bunganya tidak akan mampu tumbuh lagi di habitatnya dan akan mengurangi jumlah pohon ini di alam.

Rinduku pada Ketinggian Tertuju Pada Harumnya Pucuk-Pucuk Edelweiss 
Jadi apakah sudah terbayang apa resiko dari Bapak jaket kulit tadi menjual bunga edelweiss di lereng Gunung Bromo ? ya meskipun saya tahu bahwa ada alasan ekonomi di mana mungkin mereka tidak tahu cara lain untuk hidup namun paling tidak kalian tahu cara lain untuk membawa souvenir dari gunung sebagai bukti cinta abadi bukan hanya dengan membawa tangkai-tangkai Edelweiss tetapi harus dengan cara lain yang lebih menghargai alam tempat kita hidup. Jangan membeli sedikitpun tangkai-tangkai edelweiss yang mereka jual ataupun memetik dari atas gunung untuk pacar ya. Kalau mau menikmati wanginya harum Edelweiss yang selalu saya rindukan dan melihat betapa indahnya saat mereka bermekaran beraneka warna putih, kuning bahkan pink, cobalah luangkan waktu sejenak ke atas gunung, berjalan sedikit lelah mungkin tetapi saya harap apa yang dapat dinikmati jauh lebih banyak daripada sekedar setangkai kering Edelweiss abadi di dalam vas di atas meja belajar. Tetapi nikmatilah alam dengan cara yang bijak ya.

"Take Nothing But Pictures, Leave Nothing But Footprints, Kill Nothing But Time."

Cantiknya Anaphalis javanica atau Edelweiss Jawa berwarna pink di Gunung Lawu


Komentar

Postingan Populer